“Sebaik-baiknya berdakwah, dakwah terbaik adalah dengan perilaku kita”.
“Seserem-seremnya kita gak punya duit, lebih serem lagi kalo kita gak dapat hidayah”.
“We buy things we don’t need to impress people we don’t like”.
“Gue hijrah karena saudara seiman di kanan dan kiri gue gak pernah mencari-cari kesalahan-kesalahan gue, mencari-cari dosa gue, tapi mereka selalu mencari hal positif dari diri gue. Dan malah itu yang ngebuat gua termotivasi untuk jadi muslim yang lebih baik lagi”.
“Life isn’t a race with everybody else. Life is a place to learn and eventually you will gain something, achieve something. But the whole point of living is to learn”.
“Hidayah itu di jemput”.
“Life is just too great, man. No, that one thing who directs this life, Allah, is the greatest. I will never ever know what His plans for me are, but one thing that i know for sure: His plans is better that mine”.
“Ternyata hidup sendiri di negara asing itu gak seindah foto-foto turis Indonesia di Instagram”.
“Menurut gue setiap orang itu berhak untuk memilih apapun yang menurut mereka terbaik untuk dirinya. Dan kita tuh siapa sih harus ngejudge pilihannya itu?”
“Jangan ngerasa takut miskin, karena kita adalah makhluk dari Dzat yang Maha Kaya”.
“Why do we care so much about appearance? I don’t give a tinniest shit about how I look. I don’t think I’m ugly nor do I think I’m pretty”.
“Kalo ada masalah ya hadapin. Kalo ada halangan ya udah kerjain aja halangan itu dulu. Toh nanti lo bakal bisa nyampe ke apapun tujuan lo”.
“How much is too much?” “You were not born to please everyone”.
“Lu tuh pay more to look homeless, kayak homeless itu is the new hipster”.
“Hidup kita gak harus sama kayak orang lain”.
“Hidup itu full of surprise. Nggak ada yang tau bakalan seperti apa. Jangan melimit diri sendiri harus begini harus begitu, kayak serunya hidup tuh nggak ada. Lu stress, lu terlalu worried, lu terlalu gimana-gimana, ujung-ujungnya lu tuh bakalan beres-beres juga kok. Karena toh ujungnya akan sama, kenapa nggak pas lu lagi ngerjain ya nggak usah stress, nggak usah terlalu kepikiran. Gua aja bisa, lu juga bisa coy. Jangan terlalu keras ke diri sendiri, toh kalo misalnya udah usaha dan do’a, yaudah cukup di situ aja, nggak usah nambah-nambahi beban gak penting. Itu bakalan nyusahin diri sendiri”.
“Apakah gue harus menyalahkan diri gue yang faktanya adalah seorang introvert who doesn’t like small talks and only like real conversation, who intensively values the few friends I have, who’s perfectly comfortable being on my own and who craves a sincere connection?”
“Karena kita-kita diashpora gak akan lupa kok sama negara. Mau dimana pun kami tinggal, hati kami tetap Indonesia”.
“Kenapa orang Indonesia gak ada Inisiatif bergerak sendiri seperti layaknya manusia normal dan nggak ada rasa ingin tau ketika mereka memiliki lubang-lubang Informasi di otak mereka yang harus diisi? Kenapa mereka nggak tergerak untuk mencari tau ketika mereka sadar kalau ada banyak hal yang mereka nggak tau? Masyarakat Indonesia ternyata harus selalu dituntun dan disuguhkan. Generasi kita adalah generasi tutorial. Masyarakat Indonesia ternyata harus dikasih ikan, karena mereka nggak tau caranya memancing”.
“Karena sakit gue ini, gue baru bisa ngerti arti “sendirian” yang sebenarnya”.
“Mau lo presidennya, mau lo wakil presidennya, mau lo siapaun, I don’t care any reason behind it. Gak akan jadi semata-mata apa yang mereka lakuin itu jadi make sense. Harming other people, discriminate other people, killing other people in the name of whatever it’s doesn’t make sense to me”.
“Gue ngejalanin hidup itu sendiri. Kalau gue gagal,cuma gue yang nanggung sedih, malu dan marahnya. Kalau gue berhasil, cuma gue yang bisa ngerasain senengnya. Gue mati pun akan sendiri. Terbaring di liang kubur sendiri. Begitu juga dengan lo, atau kalian. Jalanin aja hidup lo, nggak perlu ngasih tau siapa gue. Gue tau gue siapa. Gue kenal betul manusia seperti apa gue itu. Sekarang gua tanya lagi, lo kira lo kenal gue?”
“Memojokkan orang dengan dosa yang dilakukannya itu bukan bentuk kepedulian”.
“Lakukan semuanya untuk ummat”.
“Bersenjatakan ayat, kata ‘neraka’ dan bahkan menyudutkan kelompok lain yang berbeda dengan kita menurut gue bukan cara yang tepat untuk mengajak orang kepada sesuatu yang dianggap kebaikan.mencoba menyampaikan isi dari Al’Quran dengan cara yang kurang baik bahkan dapat mengikis kebesaran dan nilai Al-Quran sendiri”.
“Kenapa banyak orang bisa seenaknya seakan-akan dia juri miss universe yang lagi menilai fisik seseorang”.
“Semua ini sebenarnya adalah common sense yang sederhana. Gue mau melontarkan sesuatu, gue harus berpikir dulu. Apakah yang gue bicarakan itu benar? Apakah yang akan gue lontarkan itu baik? Apakah yang akan gue lontarkan itu perlu? But then again many of us don’t have common sense dan menjadikan mengolok/mendegrade orang hanya dari appearancenya sebagai hobby”.
“Yang bisa nolong lo itu ya diri lo sendiri”.
“Masih banyak orang baik di dunia ini. dan gue lihat itu dengan mata kepala gue sendiri.gak usah berasumsi bahwa menjadi muslim di negara minoritas itu sebuah kesalahan. Gak usah takut”.
“Gue itu bukan benci sama orangnya. Gue itu Cuma gak setuju sama apa yang dilakukannya”.
“Growing up is something that you will encounter. Don’t be afraid, because it’s not something that you should be afraid of. Don’t go away, because it’s reality that you can’t deny. Don’t pissed, because one day you’ll thank for every adult problem that you’ve been trough. Be brave and be strong, my friend. Life goes forward”.
“Mentality atau mindset yang healthy itu adalah gimana kita bisa nerima diri kita, nerima 100 %. In this case, kita nerima muka kita kayak apa, ya emang kayak gini”.
“Generasi kita adalah generasi tutorial”.
“Ada banyak banget hal keren dibalik dinding yang lo bangun. Lo gak akan pernah tau kalo lo gak nyoba untuk manjat dindingnya, because life starts at the end of your comfort zone”.
“It made me realize that distance teaches us to appreciate those who are now far from us, to appreciate days that were spent together and how much they all mean to us”.
“Ayo dong di ubah mentalnya. Masa lo lo pada rela sih 10 tahun ke depan masih ngeliat Indonesia begini-begini aja? Masih ngeliat jenis-jenis orang yang begitu-begitu aja? Kapan kita mau naik levelnya? Sampai kapan kita mau memelihara mental konsumtif kaya begini?
“Indonesia, negara yang gak tau kapan majunya”.
“Pokoknya gue pengen jadi orang yang ga egois. Gue ga mau semua yang gue lakuin tujuannya buat gue sendiri, cuman buat kesejahteraan diri gue dan keluarga gue”.
“Kalo lo sekarang nanya ke gue, S2 mau apa, ya idk. Yang gue tahu adalah, apapun yang gue lakuin, semua yang gue kerjain, waktu yang gue abisin, energi yang gue abisin, gue pengen itu tu buat orang lain, buat ummat, buat keluarga gue, buat orang-orang di sekitar gue, buat agama gue, buat negara gue”.
“Kalo lo tanya ke gue kenapa Indonesia sampe sekarang tetep ga maju-maju, jawabannya adalah karena orang Indonesia pemalas dan gak ada inisiatif, apa-apa dicekokin, terlebih anak mudanya ya”.
“Banyak ikut organisasi jangan cuma buat bagusin CV tapi juga buat bagusin negara”.
“Life is jihad man”.
“Tiap orang kadang ga kenal dengan diri sendiri, apa tujuannnya, apa yang harus di lakuin dan apa yang harus dihindari. Ga usah minder tentang apa orang yang ngejudge kita dan malu takut dibilang ini itu karena yang menghambat lo itu bukan orang lain tapi diri lo sendiri”.
“Karena hidup hanya untuk belajar bahasa jerman itu singkat. Jalanin, semua serahkan sama Allah, selagi kita berusaha, dzikir, banyak-banyakin nambah ilmu, Insya Allah kebaikan selalu menyertai kita. Kita ga sendiri, ada yang di sana mendukung dan menunggu kita”.
“Kuliah itu bukan sekedar dapat nilai bagus atau lulus cepat. Buat gue dua hal itu cuma bonus. Kuliah itu buat gue learning process, dimana lo belajar jadi individu yang lebih punya bobot dan yang penting adalah ilmunya”.









